BANNER

Pidato Pemakaman untukmu Sahabat

| 20130502
WHY?

Aku benci hari ini datang.
Hari dimana aku harus berdiri didepan semua orang yang mengenalmu, 
dan berbicara seolah-olah aku mampu menyampaikan prakata ini di hadapan semua orang yang sama-sama sangat menyayangimu.

Aku bagaikan sebuah raga kosong yang mencoba tegar menghadapi waktu ini.  
Aku merasa semua tak bersahabat. Aku sangat membenci hari ini.
Dan kau tau itu. Sangat tau.

Kematian adalah hukum wajib bagi yang hidup, aku sungguh sadar itu.. 
Aku tau dan aku pahami itu, tapi kenapa kau terlalu cepat meninggalkanku?
Kenapa kau pergi mendahuluiku?
Apakah terlalu besar salahku hingga kau hukum aku begitu beratnya?
Kau sentak aku begitu hebatnya, kau tampar aku sangat keras dengan kenyataan tentang kepergianmu..

Taukah siksa ini sangat mengiris, tak ada yang lebih menyakitkan dibanding melihat seorang sahabat mengantarkan sahabat terkasihnya ke kubur yang dingin itu. 
Membiarkanmu sendiri dalam dinginnya kegelapan yang aku tau kau sangat membencinya.

Sayang, sejak pertama bertemu hingga hari ini, kau  sosok sahabat yang selalu mengerti inginku, kau begitu dewasa menjadi seorang kawan dan kau begitu sempurna menjadi seorang saudara, 
kau yang selalu menyelimutiku dengan perasaan tenang, kau yang menghiburku saat ku resah..

Aku menyesal. Sungguh sangat menyesal, seharusnya aku bantu kau saat masa-masa sulit itu.. Seharusnya aku yang menegarkanmu, bukan justru meninggalkanmu dengan segala kesibukanku...

Meskipun aku sangat yakin satu hal, seandainya kau masih ada pun, aku tau kau takkan marah padaku, kau pasti tetap tersenyum memandangku, dan ketika tetesan airmataku mulai jatuh kau pasti akan memelukku erat dan mengusap rambutku seperti yg kau lakukan terhadap orang-orang yg bersedih dihadapanmu.

Aku tau, aku bukan satu2nya sahabat yg bersedih.
Aku hanya seseorang dari banyak kawan yang juga merasa kehilangan.
Tapi aku selalu merasa kita ini istimewa, kita punya kenangan yang begitu banyak, dan kitapun masih punya jutaan impian yang belum kita lakukan bersama.

Saat ini, aku hanya menuruti semua yang kau mau, semua yang kau inginkan, semua yang membuatmu lega. Aku memang membuatnya, bahkan dihari sebelum kepergianmu. Aku menangis pun kau tak peduli. Aku berteriak tak mampu pun kau tetap tak peduli. Aku hancur kau meminta ini dariku, aku jatuh kau biarkan ini menimpaku. Aku tersiksa kau buat aku mengalami ini.

Sayang, aku takut. Aku sangat takut.
Aku sangat takut melawan kenyataan tentang hari ini.

Ini pidato kematianmu, pidato yang sangat ingin kau dengar dariku. Pidato yang kau minta dariku.

Aku sesunguhnya sudah terjatuh.
Membayangkan hal buruk terjadi padamu pun aku tak mampu, kenapa kau minta aku menuliskan ini untukmu? Sayang, aku hancur.

Aku akan mengenangmu dalam benak, hati dan ragaku. Kau tak sadar sebesar apa aku menyayangimu sahabat. Detik inipun aku ingin memelukmu, sangat ingin memelukmu..
Ini tentang kita, tentang kepergianmu dan tentang  pidato kematianmu.

Kaulah ladang hati yang bertabur kasih, dan kutuai dengan rasa terimakasih. Selamat jalan saudaraku, sahabat yang sangat kucinta. Aku akan mengingatmu dalam setiap moment yang kita lakukan, dan akan mendoakanmu dalam tiap tetes air mata yang kujatuhkan. Kau harus tau betapa bahagiaku mempunyai sahabat yg dikirim langsung oleh Tuhan..

Ndapur, Sisilia Endah Lestari. Beristirahatlah dengan tenang, tidurlah dalam damai yang  kau damba, bahagialah disana, berkawanlah dengan para malaikat  dan jadilah sahabatku lagi di kehidupan berikutnya. 

Bandung, November 2012

0 comments :