BANNER

IT'S BEEN SIX YEARS SINCE YOU LEFT ME (UPDATE)

| 20110329
Sampai pada saat ini pun, aku masih menganggapnya ada...
Tak pernah menghilangkannya dari dunia ini..
Dia hanya sedang pergi..
ke Paris, mengejar impiannya...

Ada yang beda di hari ini dan kemarin...
27/28 Maret 2011,

Bukan karena kegiatan hari itu, atau bagaimana suasana hari itu...
ini soal hati yang tiba-tiba merasa kangen akan sosoknya di sampingku..
Sosok yang datang di sore hari menjemputku untuk mengajak jalan-jalan menikmati Jogja..
Sosok yang selalu memelukku sayang dengan aroma khasnya..
Seperti biasa membuat banyolan-banyolan kocak yang sangat menghibur ketika dia melihatku murung,
Sosok sosial yang meperkenalkanku pada dunia yang luas...
Seniman Terhebat, Super Hero dan Lelaki Sejati di hati ku..



Hanya kau temanku saat itu,

yang bernyanyi dengan gitar di teras rumah sambil menebar tawa kepada tetangga yang melintas..
yang mengajakku makan bakso, dan minum es kelapamuda di pinggir jalan...
yang menemaniku jalan-jalan di malioboro membeli sesuatu yang akhirnya menjadi barang favoritmu..
yang mengendarai motor dengan ngebut, kemudian tertawa saat mendengar aku berteriak ketakutan, aku memelukmu erat dari belakang. Saat itu aku benear-benar takut terjatuh. Bukannya mengurangi kecepatan kamu malah semakin menggodaku. Ah sudahlah, kau memang seperti itu...

***
Kemudian jiwa sosialmu keluar dan beraksi kembali, dengan bangga kau bilang bahwa kamu dapat kesempatan membantu mereka untuk menjadi relawan di Aceh.
Saat itu aku yakin kau akan menjadi relawan terbaik di Aceh, semangatmu begitu besar untuk membantu korban-korban Tsunami kala itu. kau pemimpin di pasukanmu.itu yang ku tau.

Aku selalu menanti kedatanganmu..

Setelah beberapa minggu akhirnya kau kembali...
Aku tak sabar menemuimu, segera ku jumpai kau dirumah.. senangnya bisa memelukmu lagi..
aku ingat, dengan mata berbinar, kau menunjukan akan kesedihanmu disana, kau bercerita...
disana mengerikan, kota mati, banyak mayat, bau anyir, kotor, bervirus, dan sangat menyeramkan untuk orang yang bermental lemah. Kau bercerita tentang teman-teman yg dipulangkan karena stress, relawan yg kurang siap berhadapan dengan extrimnya keadaan disana..
sebenarnya itu mengerikan untuk didengar olehku, tapi selesai itu kau tersenyum..
kini kau bercerita tentang prestasimu disana, kau terpilihmenjadi relawan terbaik yang pertama kali berinisiatif membuat kakus untuk para korban, kau pencetusnya! kau tertawa bangga mendapat penghargaan itu.. Aku tersenyum, kemudian ku lihat barang bawaanmu dr sana.

"Apa ini?", tanyaku saat itu..
kau menjawab, menjelaskan, dan menunjukan apa itu..
"Ini Head Lamp, lampu Senter yg diikatkan di kepala, kayak gini lhow..., bagus to?"
"Kalo ini Kompor Spritus padat, cara pakenya kaya gini jeng, ini di giniin, terus diginiin, habis itu di giniin, nah! gini deh jadinya.. bagus to?"
"Ini Panci masaknya, dikasih langsung sama Volunter Amerika, bagus to??",
"Ini ada lagi, ini namanya Kantong! Kantong yang buat masukin mayat-mayat yang bakal dikubur masal.. yang putih ini untuk satu orang, kalo kuning ini bisa nyampe 3 orang. sengaja aku bawa buat kenang-kenangan."
saat itu semua berkata bahwa membawa sesuatu yg berhubungan dengan yg mati adalah pamali, tapi kau meyakinkan bahwa ini cuma sekedar kenang-kenangan.
Aku tak menghiraukan, kemudian kau menyaiku, mengobrol seperti biasa.. menceritakan soal apa yang ia alami di Aceh..
aku mendengarkan dengan simak, aku hanya manggut-manggut tercengang oleh ceritanya.
dia berkata,
"Besok kloter ke2 aku ikut lagi , coba kamu udah gede pasti aku ajak.  jadi guru buat anak-anak TK."
"Wahh.. cocok dong mas, aku bisa ngajarin mereka gambar... kemarin aku nggambarin tembok sekolahan..krna mau ultah yayasan jd tembok di catin warna-warni gitu.."
"Oh iya to? wah,,peningkatan... tambah top kamu nggambarnya! sini ikut aku ke kamar...!"
"Mau ngapain, neh tak kasih kertas ma pensil. gambar sesukamu, di kertas ini.. ntar aq beliin cat minyak, kamu gambarin kamarku ini yo! yang bagus...!"
"Ah.. aku gak bisa..."
"Ah bisaa!", kamu tersenyum. dan itu membuatku percaya diri..
"besok sebelom mas berangkat ke Aceh pasti bakal aku selesein..", aku bejanji.
"Gambarin menara Effiel , besok aku kan bakal kesana..",
"iya deh mas..", percakapan ini selalu ada di ingatanku, tak pudar, tak hilang.

Hingga suatu hari, tak lama dari hari dimana kita bercerita saat itu.
Sore hari yang cerah, ada seseorang yg datang ke rumahku...
Aku mengenalnya, menyuruhnya masuk, kemudian dia berbicara pada ibuku,
Aku tak tau kenapa, mama berteriak dan kemudian menangis...

aku bertanya,
dan kabar itu sungguh sangat mengguncang jiwaku, membuatku lemas, dan syok..
seperti tidak ingin percaya ini semua kenyataan.

Berharap Ini Semua Hanya Mimpi Burukku Saja

MUSIBAH KECELAKAAN PANJAT TEBING
Watu Gupit Parang Ndog

Selalu Ada awal dan akhir, ada sebab dan akibat begitu juga dengan semua gerak langkah yang diperbuat manusia yang selalu disertai dengan resiko. Organisasi Mapala yang bergerak dibidang petualangan, ilmiah dan ekologi adalah salah satu yang terdekat dengan yang namanya resiko tinggi bahkan beberapa waktu yang lalu kita telah kehilangan salah seorang pahlawan melalui kegiatan yang merupakan survey untuk pariwisata minat khusus panjat tebing yang berlangsung dari tanggal 27 – 28 maret 2005 di Watu Gupit Parang Ndog.

Kegiatan diikuti oleh empat orang yaitu Sri Pramono, Suharjono, lutfi dan korban sendiri Alm Abdillah Rohil.
Pada pukul 10.00 tanggal 27 Maret 2005 keempat anggota tersebut berangkat dari Jogja menuju Parangndok dan tiba dilokasi sekitar pukul 11.30, kemudian istirahat di warung Pak Sukarjo kurang lebih selama 20 menit. Saat itu cuaca mendung dan tim berjalan kaki menuju tebing memakan waktu sekitar 10 menit. Tim tiba di jalur pemanjatan “Crack Besar” dan istirahat dengan tim lain yang saat itu juga sedang melakukan pemanjatan. Sesaat setelah tiba di tebing tim beristirahat, checklist peralatan sambil menentukan jalur yang akan dipanjat. Pada saat yang bersamaan dengan berjalannya Abdillah Rohil dan Sri Pramono untuk melihat jalur yang akan dipanjat, hujan dan petir pun turun. Berdasarkan kesepakatan tim, jalur yang akan dipanjat adalah jalur “Semut” namun hujan semakin deras disertai dengan petir yang ke dua kalinya dan tim pun memindahkan peralatan ke lokasi baru sambil berteduh di dekat “In Memoriam Syamsurizal”. Seraya menunggu hujan reda tim memilah peralatan yang akan digunakan, hingga hujan sedikit reda dan semua peralatan dipindahkan kembali kelokasi pemanjatan yang selanjutnya tim melakukan pengamatan dan anatomi tebing.

Setelah itu, salah satu anggota tim melakukan pemanjatan bebas tanpa bouldering hingga beberapa waktu iapun turun karena kelelahan, pada saat itu peralatan dalam keadaan layak dan siap pakai. Kemudian Abdillah Rohil mengambil keputusan untuk melakukan pemanjatan serta memasang pengaman sisip/runner. Setelah memasang runner pertama dan tali utama, Abdillah Rohil meneruskan pemanjatan hingga runner ke tiga menurut jumlah runner yang akan dipasang. Setelah itu Abdillah Rohil turun dengan cara rapeling untuk mengamati dan memasang runner kedua selanjutnya istirahat di dasar tebing selama kurang lebih 15 menit. Pada saat akan melakukan pemanjatan kedua, runner pertama dipindahkan ke jalur utama. Saat sebelum kejadian itu adalah pukul 01.59, yang diketahui dari jawaban lutfi atas pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh Almarhum sesaat sebelum melakukan pemanjatan.

Pada saat itu Abdillah Rohil sebagai leader, Sri Pramono sebagai belayer dan Suharjono sebagai pengatur tali. Abdillah Rohil pun memanjat dengan memasangkan tali tubuh pada runner pertama dan melanjutkan pemanjatan ke posisi yang lebih tinggi dengan melewati runner ke dua tanpa memasang tali tubuhnya pada runner. Saat itu Sri Pramono selaku belayer sempat berteriak untuk mengingatkan agar memasang tali tubuhnya pada runner kedua namun di jawab “kurang kuat” oleh Abdillah rohil selaku leader dan orang yang sedang melakukan pemanjatan. Pada saat itu posisinya diatas runner kedua dan mencari posisi untuk dipasangi pengaman tambahan. Belayer sempat melihat kaki dan tangan leader gemetar dan kembali berteriak namun tertahan karena leader telah jatuh dengan posisi terlentang dan darah terlihat keluar dari mulut, hidung dan telinga. Anggota tim yang lain segera memberikan pertolongan pertama, Sri Pramono melepaskan semua tali yang terpasang pada tubuh korban, Suharjono meminta bantuan pertolongan evakuasi kepada tim pemanjat lain dan Lutfi meng-cleaning peralatan. Pada saat itu korban masih hidup dan proses evakuasi memakan waktu kurang lebih 30 menit karena sulitnya medan. Dalam setengah perjalanan, Sri Pramono turun mencari angkutan sementara tim beserta yang lainnya melakukan evakuasi bersama-sama. Setelah hampir setengah jam angkutanpun diperoleh dan korban yang telah diusung ke jalan yang lebih landai segera dimasukkan ke mobil dan dibawa menuju Rumah Sakit St. Elizabeth, bantul. Setelah diperiksa dokter, tim baru mengetahui bahwa saat itu korban sudah meninggal.

Biodata almarhum
Nama : Abdillah Rohil
TTL : Yogyakarta, 29 Oktober 1983
Agama : Islam
Alamat : Brontokusuman Mg 3/353
Nama orang tua : Neneng S.H Ali
Alamat orang tua : Brontokusuman Mg 3/353 Yogyakarta.
Pendidikan : D3 Akuntansi YPK (tidak belum lulus)
LIP (Lembaga Indonesia Perancis) Yogyakarta
Pengalaman di Palma YKP
• Lulus diksar tahun 2001
• Ketua Palma periode 2002 – 2003
• Pendakian dari 0 mdpl, ke puncak merapi
• Penemuan mayat serta evakuasi dilereng Merapi Selatan 2003
• Relawan ke Aceh korban tsunami 2004















 Membacanya saja aku tak sanggup...

***
Hai semangatku, Guruku dan Orang terhebatku..
Maafkan aku sempat melupakanmu...
Bahkan aku lupa mengirimkan harapanmu padaku.

Entahlah, mengunjungimu sekali setelah 2 tahun melewatkan berkunjung ke rumahmu, membuat ku merasa  bersalah, setega itu aku melupakanmu begitu saja...

Kini sudah 6 tahun dari peristiwa itu...
Peristiwa yang merubah sebagian kehidupanku...

Kau tau kan seperti apa perasaanku saat itu?
Aku sedih, kehilangan sosok sepertimu. Satu-satunya yang sangat memahamiku, mempercayai kemampuanku, memuji kehebatanku, mendukung kesukaanku, mengajariku segala hal tentang bagaimana menjadi masyarakat hebat, menjadi pemuda sejati, dan tentu menjadi anak yang berbakti.

Sekarang kamu bagaimana? Bisakah melihatku disini?
aku sudah hampir menyamai umurmu dahulu,
aku sosial seperti mu, menjadi jurnalis seperti harapanmu, menyatu dengan alam seperti kesukaanmu...
kini aku mandiri.. lihat lah..
aku berdiri di jalan benar, meski kini tak ada lagi sosok dewasa yang menasehati seperti kata-kata ampuhmu kala itu, aku tetap menjalankan pesanmu. Menjadi Anak Yang Berbakti.

Aku rindu saat kau memetik gitarmu dan menyanyikan lagu kesukaanku...
tersenyum manis, tak malu menghiburku yang kala itu masih bocah...

Kau mengenalkanku pada Prancis, Paris, Effiel, dan Keindahan yang harus aku temui saat aku dewasa nanti.
Aku berjanji mas, akan memenuhi keinginanmu untuk kesana.
Bantu doa..:D

Sini Lihat, kini aku bisa bermain dengan gitarku sendiri.. menyanyikan lagu gembira seperti kala bersamamu, aku juga menyanyikannya di teras, memetik dengan lantang dan bernanyi sambil tersenyum, bukankah saat itu kau juga mengajariku tenang "Tebar Pesona'? :)

Masih ingatkah? saat kau berkata, "Jadi cewe musti kuat!", kau menyarankanku ikut kelas Bela Diri.
dan akhirnya aku menurutimu, merengek meminta mama mendaftarkanku di exul Karate saat SMP.
kau tau? kau membuatku menjadi cewe tomboy saat itu, terlalu lama bergaul denganmu membuatku benar-benar seperti replicamu dalam versi perempuan.
Ahh.. tapi aku suka kok :D

Ingat ini?
Soal bagaimana cara bertahan hidup di hutan?
Kau sering mengajakku ke sebuah gunung di dekat rumah, kemudian kau ajak aku ke kampusmu, melengkapiku dengan seragam khusus dan tali-temali yang rumit untuk ku mengerti,
Mas,  kamu lah yang pertama memperkenalkanku tentang alam, dan tentang CLIMBING..
Kala itu kau tau aku menyukai kegiatan itu, hingga tiap minggu kau jemput aku dan kau ajak aku berolahraga bersama teman-temanmu. aku ingat sekali kao selalu memuji jari-jariku yang panjang, kau bahkan berkata bahwa aku besok akan menjadi gadis yang bertubuh tinggi.
Seeprtinya itu benar mas :D

ahhh...
Tapi saat mengetahui bagaimana caramu meninggalkanku, aku bersumpah dengan diriku sendiri mas...
Aku kini membenci olahraga ataupun kegiatan itu, aku membenci Tebing-tebing itu, dan aku membenci pantai yang dulunya menadi favorit kita itu..

Mas Roi..
Aku kangen, mengertilah.
Sudah 6 tahun kamu pergi dan gak sekalipun menjengukku..
Bukankah ini waktu yang tepat..
Ini tepat 6 tahun kau pergi.....
Datanglah, temui aku...
Kamu tau betapa sedihku saat ini kan?


Didedikasikan kepada Abdillah Rohil (Mas Roi) 
29 Oktober 1983 - 27 Maret 2005 (usia 22 tahun)
Mengenang 6 Tahun Kepergiannya.
Kakak Terhebat yang selalu mengajari adik-adiknya tentang ketegaran, kesabaran, dan keikhlasan. Penerang di saat kelam. Pemimpinku dan kami semua.
Sodara Terkasih yang akan selalu hidup di hatiku...

Beberapa Teman dan kawan seperjuanganmu Mas...


















UPDATE
Kesedihanku telah menjadi kesedihan kami semua, banyak yang begitu dekat dengan sosoknya, termasuk adikku ini.. yang menjadi salah satu adik kesayangan almarhum..

Kesedihannya...

"feedback"
by Jiphie Gilia on Tuesday, March 29, 2011 at 11:57pm

entah saya merasa beruntung atau apa
nggak ngrasa sudah 6 tahun terlewat dan saya memang tidak menghitungnya
tapi memang selama dua hari ini saya selalu mengingatnya dengan baik
terkenang semua yang telah tumpah ruah menjadi kenangan

berulang kali saya meminta kepada Tuhan agar saya meng-ikhlas-kannya berangkat duluan,hasilnya belum
mungkin sebaiknya mereka menegaskan doa mereka agar keluarga yang ditinggalkan diberi ke-ikhlas-an yang besar,tidak hanya ketabahan
dibilang tabah, saya tabah karena saya beruntung tidak biasa bersamanya sehingga tidak banyak kenangan yang terpahat

gawatnya, kebersamaan yang sedikit itu menancapkan kenangan yang sedemikian dasyat
karena di akhir pertemuan, kita banyak berbicara dengan gaya beranjak dewasa

dewasa karena keadaan yang menuntut kita, tentunya
sekarang saya lebih sedikit tua jika dibandingkan dengannya saat itu
namun saya masih belum merasa lebih dewasa darinya

ya, dia yang selalu menjadi kakak saya
yang hampir semua nasehatnya saya tentang dengan pembuktian, berbeda dengan Ajenk Koya Darmista yang mengikuti jejaknya.

lagu yang dia tidak suka, saya analisa dan akhirnya saya suka untuk mengenangnya
jurusan yang tidak suka, saya ambil untuk pembuktian kepadanya
dan kegemarannya dengan alam, saya jauhi untuk menyampaikan rasa sedihku padaNya
hanya seni yang memang mengalir dalam nafas kami, yang tergetar hebat hingga saat ini

masih sangat terkenang tentang wejangannya yang begitu melapaui usianya saat itu tentang keluarga kita,
tentang orang yang membutuhkan kita, tentang kekagumannya kepada bunda teresa, tentang tolong menolong, tentang cita-cita, tentang paris,tentang alam

sepeninggalmu,
masih sangat terkenang semua tingkah laku terpujimu yang melampaui batasanmu
saat kau memilih tidur bersama musisi jalanan dan seniman hebat di emperan malioboro
saat kau memilih berjalan menuju LIP daripada meminta uang kepada nenekmu
saat kau memilih duduk merenungkan kehidupan dipertigaan gang daripada nyaman dikamarmu
saat kau memilih membahagiakan sekitar tanpa pamrihmu
saat kau memilih menjadi relawan dengan menunda studimu

dan denganku
kau lebih memilih tidak makan demi aku
kau lebih memilih bangun ditengah malam demi menemani sahurku
kau lebih memilih pulang menemani bukaku daripada melanjutkan cita-citamu
kau lebih memilih memberikan karyamu untukku daripada menjualnya
kau lebih memilih bangun pagi hanya untuk menyaksikanku kembali kepada bundaku

dan aku masih mengingat manjamu
saat kau minta dibuatkan segelas teh hangat dengan kadar manis seleramu
saat kau berkata kau tidak bisa mencuci jeansmu yang berbentuk mozaik kain perca
saat kau berkata tidak bisa menyetrika sehalus hasilku
saat kau . . .
antara aku, kau, dan saudara kita

teh manis, indomi, oseng-oseng tempe, bahasa prancis, ulang tahun tiap tahun, seni, berbagi
source

4 comments :

{ Angga J.P. } at: April 2, 2011 at 11:41 AM said... ( Reply)

nangis

Nando at: April 2, 2011 at 4:27 PM said... ( Reply)

MOga kakak lu tenang disana ya ponk...

{ Nova Utomo } at: April 4, 2011 at 10:08 PM said... ( Reply)

Sabarr dan tetep tegar,jenk

{ Ajenk Koya } at: April 6, 2011 at 9:51 AM said... ( Reply)

@Nando
so pastii.. thanks...

@Nova Utomo
aku tegarrr :D makasih mas...

@Angga J.P.
cup cup nak :)