BANNER

SUDUT HATI

| 20110409
Ini kisahku kemarin sore,

Tentang sebuah paranoid yang berakhir dengan kenyataan yang ada.

***

Aku baru aja parkir motor di garasi, sore ini jalanan dari kantor ke rumah bener-bener macet.
Bikin capek, bikin emosi, bikin orang pengennya marah-marah.
Hoam…

Setelah lepas helm, aku masih duduk di motor. Merasakan lelah yang menjalar ke seluruh tubuh.
Tiba-tiba handphoneku bunyi. Dengan terburu-buru ku bongkar tas, dan mengambil handphone GSM ku itu, tanpa melihat nama penelpon, langsung saja ku tekan tombol hijau..
Dan…

"Halo..?", ku ucapkan kalimat klise seperti biasanya.
"...", tidak ada jawaban di sebrang sana, namun beberapa detik kemudian kudengar dia mulai sesenggukan. Seperti menangis.

"Hei! Kamu kenapa nangis...?", aku terkejut, bingung. Kenapa dia menelponku sambil menangis? Jantungku berdebar, takut ada hal buruk yang akan disampaikannya. 
"...", Dia tetap menangis dan masih mengabaikan pertanyaanku, aku semakin khawatir, namun tak bisa memaksanya. Ku biarkan saja dia menangis dulu.

"Oke, nangis dulu aja..." Aku mengenalinya. Dari tangisannya pun aku tau siapa dia, kupastikan dengan melihat nama di layar handphone, XXXX
"...", dia masih sesenggukan, dan aku hanya mampu menenangkannya semampuku.

"Cup...", cukup lama dia menangis, sudah 5 menit tapi belum ada kalimat yang keluar dari mulutnya.
Ditengah ketenangan itu, akhirnya dia bicara.
"Aku pengen kamu denger aku nangis...", aku menyimaknya seksama.
"Iya, boleh kok.. nih udah aku dengerin dari tadi… sekarang jangan nangis lagi ya..”,aku juga gak tau musti ngomong apa.  
klik!

"Aku tuh pengen nangis! Ngerti ga sih??", suasana hatinya labil, sangat emosional. Sama denganku. Emosi dengan kemacetan di jalan tadi juga masih kurasakan. Tapi aku mengalahkan egoku, suasana hatinya mungkin tengah kacau.
Aku menghela nafas, dia juga. 
Sekali lagi kutanya.
"Iya aku ngerti... Boleh tanya kenapa?", pelan-pelan aku mencoba bertanya.

"Aku gak tau jenk...", dia mulai memelan. 
Gak ngotot seperti tadi.
"Hemm... Aku bikin salah yang aku ga sadar?", mungkin ngejudge diri sendiri lebih aman dari pada ngejudge dia duluan.
"Aku gak tau..", isak tangisnya masih ada. Seperti orang yg menangis karena ditinggal mati.

"Yaudah, cerita sama aku kejadian ½ jam sebelum akhirnya kamu mencet no hape aku...", aku Cuma pengen tau, dia kenapa?
"Jenk... Aku mimpi kamu pergi.", aku mendengarkannya.
"Aku emang pergi...", ku jawab dengan nada datar, aku tidak ingin memunculkan ekspresi apapun di nada bicaraku.

"Jenk, aku mimpi kamu merninggal.. Bangun tidur aku nyariin kamu..! Terus kamu gak ada..!",
"...", sekarang aku yang terdiam...
"Aku ambil hape aku jenk, aku cari nomor kamu, dan aku langsung nelpon kamu... Pas aku denger kamu bilang 'halo', gak tau kenapa aku langsung nangis.."

"...", aku masih terdiam.
"Jenk?", dia memanggilku, mungkin tersadar bahwa aku sudah lama terdiam.
"Ya?",aku menjawabnya. tak ingin dia khawatir.
"Maaf..."
"Gak papa lagi... Makasih ya udah khaawatir...",
"Cuma gak mau kamu pergi 2x dan yang ini jauh bgt.."
"Enggak, aku pasti pulang...", aku hanya ingin menenangkannya.
"Jaga diri disana jenk...", dia berpesan.
"Pasti! Kamu juga hati-hati ya..", sama halnya denganku.
"Iya..". jawabannya singkat, mungkin pembicaraan ini akan segera berakhir.
"Iya.. jangan nangis lagi, kalo ada apa-apa langsung hubungin aku..", memberi masukan, entah di dengar atau tidak.
"Iya jenk...  Makasih ya... Met sore..",
"Sama-sama, Met sore..",
Simple..
Tapi dalem.

Aku menutup pembicaraan ini, kulanjutkan memasuki rumah. Terhenti di anak tangga ke 3, huuft.. aku berfikir sejenak, entah memikirkan apa.
Sedikit tersenyum. Menggelengkan kepala, dan melanjutkan naik ke kamar.
Ku buka pintu kamar, dan langsung kurebahkan badanku di kasur.
Memejamkan mata, 
lalu membayangkan..
Bagaimana kalau yang bermimpi seperti itu adalah aku...?

2 comments :

{ dePerta } at: April 12, 2011 at 5:27 PM said... ( Reply)

it's always happy and have touchfull feeling know somebody else worries about you even they have bad dreams about you

nice too meet ya mba ajenk

{ Ajenk Koya } at: April 13, 2011 at 8:35 AM said... ( Reply)

Balasan Untuk Miss dePerta
I was lucky, could become an influential person in her life..
and thanks a lot Miss Perta .. :D
*just call me Ajenk hihihi :P*